JAWA BARAT — Pada 15–17 September 2026, Payaman Lab mendapat kesempatan untuk terlibat dalam pelaksanaan In House Training Kementerian Agama dengan tema “Penguatan Kapabilitas Pegawai pada Desain Publikasi dan Pengelolaan Media Digital” yang berlangsung di Hotel Savero, Depok, Jawa Barat.
Kegiatan ini mempertemukan para pegawai yang bertugas pada bidang kehumasan dan publikasi, khususnya para Humas utusan madrasah dari berbagai daerah di Indonesia.
Pertemuan peserta dari berbagai wilayah tersebut menjadi bagian penting dari proses pelatihan. Selain mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru, peserta juga memiliki ruang untuk saling bertukar pengalaman mengenai tantangan komunikasi, publikasi, dan pengelolaan media digital di lingkungan madrasah masing-masing.
Bagi Payaman Lab, pelatihan tidak cukup hanya dengan menghadirkan narasumber dan menyampaikan materi. Sebuah program pelatihan perlu dirancang sebagai learning experience yang mempertemukan materi, praktik, interaksi, kolaborasi, dan pengukuran hasil pembelajaran.

Tiga Sesi untuk Memperkuat Kapabilitas Humas
Dalam pelaksanaannya, program pelatihan dikemas dalam tiga sesi utama yang saling berkesinambungan.
Ketiga sesi tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu melihat bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam aktivitas publikasi dan pengelolaan media digital.
1. Fotografi: Belajar Melihat dan Menangkap Momen
Sesi pertama menghadirkan Rasdian Avalokiteswara Vadin, fotografer profesional, dosen, sekaligus photojournalist.
Materi fotografi tidak hanya membahas bagaimana menggunakan kamera atau smartphone untuk menghasilkan gambar, tetapi juga bagaimana seorang pengelola komunikasi melihat sebuah peristiwa dan menentukan momen yang layak untuk dikomunikasikan.
Peserta diperkenalkan dengan berbagai aspek dasar fotografi, mulai dari:
- pengenalan kamera dan pengaturan dasar;
- komposisi fotografi;
- rule of thirds;
- leading lines;
- symmetry dan framing;
- penggunaan foreground, middle ground, dan background;
- angle dan perspektif;
- pencahayaan;
- jenis-jenis foto dokumentasi;
- menentukan decisive moment; serta
- teknik menghasilkan foto yang informatif sekaligus memiliki nilai visual.
Peserta kemudian diarahkan untuk mempraktikkan materi melalui tantangan “5 Photos, 1 Story”.
Dalam tantangan tersebut, peserta tidak sekadar diminta mengambil lima foto, tetapi menyusun rangkaian visual yang terdiri dari lokasi, aktivitas, orang, interaksi, serta detail atau momentum.
Dengan pendekatan tersebut, fotografi ditempatkan bukan hanya sebagai aktivitas mengambil gambar, tetapi sebagai bagian dari proses komunikasi.
2. Videografi dan Visual Storytelling: Mengubah Peristiwa Menjadi Cerita
Sesi kedua menghadirkan Irfan Risdian, seorang film producer dan praktisi cinematography.
Jika fotografi membantu peserta memahami bagaimana menangkap sebuah momen melalui satu frame, sesi videografi membawa peserta pada tahap berikutnya: bagaimana menyusun rangkaian visual menjadi sebuah cerita.
Materi mencakup berbagai dasar videografi, antara lain:
- frame dan resolusi;
- frame rate;
- orientasi dan aspect ratio;
- jenis shot;
- wide shot hingga close-up;
- angle kamera;
- camera movement;
- stabilisasi;
- pengambilan audio;
- visual storytelling; dan
- penyusunan sequence.
Peserta juga diperkenalkan pada kerangka:
MESSAGE → STORY → SHOT → SEQUENCE → VIDEO
Kerangka tersebut membantu peserta memahami bahwa video yang baik tidak dimulai dari kamera, tetapi dari pesan yang ingin disampaikan.

Dalam praktiknya, peserta mendapatkan tantangan “One Event, One Story”, yaitu mengolah sebuah peristiwa menjadi video pendek berdurasi sekitar 30–60 detik.
Struktur cerita juga diarahkan agar peserta memahami alur:
HOOK → CONTEXT → DEVELOPMENT → EVIDENCE → CLOSING
Dengan demikian, video dokumentasi tidak berhenti sebagai kumpulan footage, tetapi dapat dikembangkan menjadi konten komunikasi yang memiliki konteks dan tujuan.
3. Penyuntingan Video Menggunakan CapCut: Dari Footage Menjadi Konten
Sesi ketiga menghadirkan Ayu Nadia Chaerani, videographer dan video editor.
Pada sesi ini, peserta memasuki tahap produksi konten melalui proses penyuntingan menggunakan CapCut.
Materi meliputi:
- pengenalan workspace;
- pengelolaan asset;
- cut, trim, split, delete, dan rearrange;
- crop dan speed;
- freeze frame;
- audio dan sound;
- transition;
- text dan subtitle;
- visual identity;
- format video 16:9, 9:16, dan 1:1;
- penyusunan video untuk kebutuhan publikasi digital; serta
- proses export dan finalisasi konten.
Salah satu prinsip yang ditekankan dalam sesi ini adalah:
“Good editing starts with good selection.”

Artinya, kualitas editing tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi juga oleh kemampuan memilih footage yang tepat.
Peserta kemudian diarahkan melalui proses:
CAPTURE → SELECT → EDIT → EXPORT
Dengan pendekatan tersebut, peserta diharapkan dapat mengembangkan footage hasil dokumentasi menjadi konten digital yang lebih terstruktur dan siap digunakan pada berbagai kanal publikasi.
Tidak Hanya Belajar, tetapi Juga Membangun Kekompakan
Salah satu hal yang menjadi perhatian Payaman Lab dalam merancang pelatihan adalah engagement peserta.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Karena itu, proses pembelajaran tidak hanya diisi dengan pemaparan materi.
Payaman Lab memadukan kegiatan pembelajaran dengan team building dan fun games yang dipandu oleh trainer yang memiliki pengalaman dalam bidang public speaking dan capacity building.
Aktivitas tersebut dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang lebih cair sekaligus mendorong peserta untuk:
Berkenalan → Berkomunikasi → Berkolaborasi → Saling Belajar.
Team building menjadi ruang bagi peserta untuk membangun interaksi di luar sesi materi. Hal ini penting karena dalam pekerjaan kehumasan, kemampuan membangun komunikasi dan bekerja bersama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kemampuan teknis.
Dengan demikian, pelatihan tidak hanya menghasilkan proses transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat networking dan kesolidan antarpeserta.
Riza Muthohar: Menghubungkan Materi dengan Komunikasi
Dalam keseluruhan rangkaian kegiatan, Riza Muthohar, praktisi Branding & Marketing dan Director Payaman Lab, turut berperan dalam menghubungkan berbagai sesi pembelajaran dengan konteks komunikasi dan publikasi.
Bagi seorang Humas, kemampuan menghasilkan foto, video, maupun desain bukanlah tujuan akhir.
Pertanyaan berikutnya adalah:
Untuk siapa konten tersebut dibuat?
Pesan apa yang ingin disampaikan?
Di platform mana konten tersebut dipublikasikan?
Dan dampak apa yang ingin dihasilkan?
Karena itu, proses produksi konten perlu ditempatkan dalam kerangka:
MESSAGE → AUDIENCE → PLATFORM → IMPACT
Kerangka tersebut membantu peserta melihat bahwa kemampuan visual dan digital merupakan bagian dari strategi komunikasi yang lebih besar.
Fasilitator sebagai Penggerak Suasana Belajar
Selain narasumber utama, kegiatan juga didukung oleh Ahmad Zainuri dan Nurbaiti sebagai fasilitator.
Keduanya berperan menjaga dinamika kelas, membangun engagement, memfasilitasi interaksi, serta membantu menciptakan transisi yang lebih cair antara satu aktivitas dengan aktivitas lainnya.
Peran fasilitator menjadi penting dalam model pelatihan yang tidak hanya mengandalkan metode ceramah, tetapi juga melibatkan diskusi, praktik, permainan, refleksi, dan evaluasi.

Bagaimana Mengukur Keberhasilan Pelatihan?
Bagi Payaman Lab, sebuah pelatihan tidak ideal jika keberhasilannya hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir atau seberapa meriah suasana kelas.
Karena itu, Payaman Lab mengembangkan pendekatan Learning Measurement System untuk membantu penyelenggara melihat perubahan yang terjadi selama proses pembelajaran.
Pengukuran dapat dilakukan melalui beberapa komponen, antara lain:
Knowledge
Mengukur pemahaman peserta melalui pre-test dan post-test.
Skill
Mengukur kemampuan peserta melalui praktik fotografi, videografi, dan editing.
Product
Menilai hasil karya yang dihasilkan peserta selama pelatihan.
Attitude & Participation
Melihat keterlibatan, kolaborasi, inisiatif, dan partisipasi peserta selama proses pembelajaran.
Selain nilai akhir, perbandingan antara hasil pre-test dan post-test dapat digunakan untuk melihat learning gain atau peningkatan pemahaman peserta.
Data tersebut kemudian dapat menjadi dasar bagi penyelenggara untuk menentukan kebutuhan tindak lanjut: apakah peserta sudah siap menerapkan kompetensi yang diperoleh, materi mana yang masih perlu diperkuat, dan bentuk pendampingan seperti apa yang dibutuhkan setelah pelatihan.
Dari Pelatihan Menuju Dampak
Bagi Payaman Lab, kegiatan pelatihan seharusnya tidak berhenti ketika sesi terakhir selesai.
Proses yang lebih penting justru dimulai setelah peserta kembali ke lingkungan kerjanya.
Pengetahuan fotografi perlu diterapkan dalam dokumentasi kegiatan.
Kemampuan videografi perlu digunakan untuk menghasilkan cerita visual.
Kemampuan editing perlu diterjemahkan menjadi konten yang relevan dengan kebutuhan publikasi.
Dan seluruh kemampuan tersebut perlu diarahkan pada satu tujuan: memperkuat komunikasi organisasi kepada publik.
Karena itu, Payaman Lab melihat pelatihan sebagai sebuah rangkaian:
PLAN → LEARN → PRACTICE → PRODUCE → MEASURE → IMPROVE → PUBLISH
Bukan sekadar acara yang selesai dalam beberapa hari.
Payaman Lab: Merancang Learning Experience, Bukan Sekadar Pelatihan
Pengalaman bersama Kementerian Agama ini menjadi salah satu contoh bagaimana Payaman Lab merancang program pelatihan dengan pendekatan yang lebih menyeluruh.
Mulai dari materi dan narasumber, metode pembelajaran, praktik, team building, engagement, hingga measurement, seluruh elemen dirancang agar saling terhubung.
Karena bagi Payaman Lab:
Pelatihan yang baik bukan hanya tentang apa yang disampaikan di dalam kelas, tetapi tentang apa yang dipahami, dipraktikkan, dihasilkan, dan berubah setelah pelatihan selesai.