SINGAPURA – Ekosistem startup Indonesia kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat Asia. Dalam edisi keenam Forbes Asia 100 to Watch 2026, sebanyak delapan perusahaan rintisan asal Indonesia berhasil masuk dalam daftar perusahaan dengan potensi pertumbuhan dan inovasi yang dinilai menonjol di kawasan Asia-Pasifik.
Daftar tersebut diumumkan Forbes Asia di Singapura pada Selasa, 25 Agustus 2026. Kehadiran delapan startup Indonesia memperlihatkan semakin beragamnya sektor bisnis berbasis teknologi di Tanah Air, mulai dari kecerdasan buatan (AI), fintech, kesehatan, e-commerce, hingga teknologi ramah lingkungan.
Secara jumlah, India menjadi negara dengan perwakilan terbanyak dalam daftar tahun ini dengan 19 perusahaan. Singapura menyusul dengan 15 perusahaan, China 10 perusahaan, sementara Jepang dan Korea Selatan masing-masing memiliki sembilan perusahaan.
Pendanaan Startup Asia 100 to Watch Capai USD 2,4 Miliar
Forbes mencatat, 100 perusahaan yang masuk dalam daftar Asia 100 to Watch 2026 secara keseluruhan telah menghimpun pendanaan sekitar USD 2,4 miliar atau sekitar Rp42,59 triliun.
Hampir USD 1 miliar dari total tersebut dihimpun sepanjang 2026.
Menariknya, perkembangan teknologi tahun ini semakin memperlihatkan pergeseran fokus startup. Jika sebelumnya pertumbuhan sering dikaitkan dengan ekspansi pengguna dan pendanaan besar, kini inovasi yang berkaitan dengan efisiensi bisnis, kecerdasan buatan, enterprise technology, robotika, dan green technology menjadi perhatian yang semakin besar.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak lagi hanya digunakan untuk menciptakan produk baru. Teknologi juga semakin berperan dalam menyelesaikan persoalan operasional dan kebutuhan nyata di masyarakat.
8 Startup Indonesia yang Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026
Delapan startup Indonesia yang masuk dalam daftar Forbes tahun ini hadir dari berbagai sektor. Berikut di antaranya.
1. Cekat.AI – Enterprise Technology & AI
Didirikan pada 2023 dan dipimpin oleh CEO Matthew Sebastian, Cekat.AI mengembangkan solusi berbasis kecerdasan buatan untuk membantu bisnis mengotomatisasi layanan pelanggan.
Teknologinya memungkinkan perusahaan memberikan respons kepada pelanggan melalui website maupun aplikasi pesan instan secara otomatis. Dengan pendekatan ini, bisnis dapat memberikan layanan selama 24 jam tanpa sepenuhnya bergantung pada operasional customer service konvensional.
Kehadiran Cekat.AI sekaligus menunjukkan semakin pentingnya AI dalam membantu perusahaan meningkatkan efisiensi interaksi dengan pelanggan.
2. Durianpay – Fintech
Di sektor teknologi finansial, Durianpay hadir sebagai penyedia payment gateway B2B.
Didirikan pada 2020 oleh Natasha Ardiani, perusahaan ini mencatatkan volume transaksi lebih dari USD 5,5 miliar sepanjang 2025 dan mencapai tahun profitabilitas pertamanya.
Pencapaian tersebut memperlihatkan bagaimana infrastruktur pembayaran digital menjadi bagian penting dalam perkembangan bisnis berbasis teknologi.
3. Grouu – E-commerce & Retail
Grouu bergerak di sektor makanan bayi dan anak. Startup yang didirikan pada 2020 oleh Jessica Marthin ini mengembangkan produk makanan sehat dan MPASI dengan fokus pada kebutuhan nutrisi anak.
Produk Grouu kini telah tersedia melalui lebih dari 3.000 titik distribusi, baik secara fisik maupun digital.
4. Loluna – E-commerce & Retail
Berbeda dari Grouu, Loluna berfokus pada produk perawatan kulit untuk bayi dan anak.
Didirikan pada 2022, Loluna Care mengembangkan produk skincare yang ditujukan untuk kulit sensitif anak. Perusahaan ini menjadi salah satu contoh berkembangnya brand lokal yang memanfaatkan kebutuhan spesifik konsumen sebagai peluang bisnis.
5. Satu Dental – Healthcare
Sektor kesehatan juga memiliki perwakilan melalui Satu Dental, jaringan klinik gigi berbasis teknologi yang dipimpin CEO Felix Saputra.
Didirikan pada 2021, Satu Dental mengembangkan layanan perawatan gigi dengan pendekatan yang lebih terstandardisasi dan terintegrasi secara digital.
Teknologi digunakan bukan hanya untuk mendukung pelayanan, tetapi juga untuk membangun pengalaman pasien yang lebih terintegrasi.
6. Sirka – Healthtech
Sirka merupakan perusahaan healthtech yang berdiri sejak 2021 dan berfokus pada kesehatan preventif.
Layanannya mencakup konsultasi nutrisi secara digital, pengelolaan berat badan, serta pendampingan gaya hidup sehat.
Pendekatan preventif seperti ini menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan teknologi digital dalam membantu masyarakat mengelola kesehatan sehari-hari.
7. Soul Parking – Consumer Technology
Permasalahan keterbatasan lahan parkir di kawasan perkotaan menjadi fokus Soul Parking.
Startup yang berdiri pada 2020 ini mengembangkan solusi smart parking dengan memadukan perangkat keras mekanis dan sistem perangkat lunak untuk mengoptimalkan penggunaan ruang parkir.
Solusi tersebut menjadi contoh bagaimana teknologi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan infrastruktur perkotaan yang semakin kompleks.
8. Waste4Change – Green Technology
Sementara itu, Waste4Change menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia dalam daftar tersebut yang bergerak di sektor teknologi hijau.
Didirikan pada 2014, perusahaan ini berfokus pada pengelolaan sampah berkelanjutan. Waste4Change dilaporkan telah menangani lebih dari 90.000 ton sampah, termasuk sekitar 38.000 ton yang didaur ulang sepanjang 2025.
Kehadiran Waste4Change memperlihatkan bahwa inovasi teknologi tidak hanya berkaitan dengan sektor digital, tetapi juga dapat digunakan untuk menjawab persoalan lingkungan.

AI dan Efisiensi Menjadi Arah Baru Pertumbuhan Bisnis
Salah satu hal yang menarik dari daftar Forbes Asia 100 to Watch 2026 adalah semakin kuatnya posisi Artificial Intelligence (AI) dalam ekosistem bisnis.
Cekat.AI menjadi salah satu contohnya. Teknologi AI dimanfaatkan untuk mengotomatisasi komunikasi dengan pelanggan sehingga bisnis dapat memberikan respons secara lebih cepat dan konsisten.
Tren ini sejalan dengan perubahan kebutuhan perusahaan. Di tengah persaingan yang semakin ketat, bisnis tidak hanya dituntut untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan, tetapi juga harus mampu menjalankan operasional secara efisien.
AI kemudian hadir sebagai salah satu teknologi yang dapat membantu perusahaan dalam berbagai aktivitas, mulai dari customer service, pengolahan informasi, pembuatan konten, analisis data hingga otomatisasi proses bisnis.
Dengan kata lain, transformasi digital kini tidak lagi sekadar tentang memiliki website atau akun media sosial. Transformasi digital mulai bergerak menuju bagaimana teknologi dapat bekerja bersama manusia untuk membuat proses bisnis menjadi lebih efektif.
Pelajaran untuk Bisnis dan UMKM Indonesia
Perjalanan delapan startup Indonesia yang masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026 memberikan satu gambaran penting: inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi yang sepenuhnya baru.
Banyak peluang justru muncul ketika teknologi digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang sudah ada.
Customer service yang lambat, pembayaran yang rumit, pengelolaan kesehatan, keterbatasan lahan parkir, hingga masalah sampah merupakan persoalan yang sudah lama ada. Teknologi kemudian digunakan untuk membuat solusi terhadap persoalan tersebut menjadi lebih cepat, terukur, dan efisien.
Bagi pelaku UMKM dan perusahaan yang sedang bertumbuh, pendekatan serupa dapat diterapkan dalam skala yang lebih sederhana.
Otomatisasi komunikasi pelanggan, integrasi website, digital marketing, pengelolaan data, hingga pemanfaatan AI dapat menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan produktivitas tanpa harus menambah beban operasional secara berlebihan.
Payaman Lab dan Pengembangan Solusi AI untuk Bisnis
Melihat perkembangan tersebut, Payaman Lab juga mengembangkan solusi berbasis AI yang ditujukan untuk membantu bisnis mengotomatisasi komunikasi dengan pelanggan.
Salah satunya adalah ChatSaya.com, platform AI assistant yang dirancang untuk membantu bisnis menjawab pertanyaan pelanggan secara otomatis melalui kanal digital.
ChatSaya.com dapat digunakan sebagai asisten virtual yang memahami informasi mengenai produk atau layanan bisnis. Dengan demikian, pelanggan dapat memperoleh respons secara cepat tanpa harus selalu menunggu admin atau customer service merespons secara manual.
Bagi bisnis, teknologi seperti ini dapat membantu mengurangi pekerjaan repetitif sekaligus memastikan pertanyaan pelanggan tidak mudah terlewat.
Namun, AI bukanlah pengganti seluruh aktivitas manusia. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kemampuan tim, terutama pada pekerjaan yang membutuhkan kecepatan, konsistensi, dan respons terhadap pertanyaan yang berulang.
Saatnya Bisnis Indonesia Memanfaatkan AI
Masuknya delapan startup Indonesia dalam Forbes Asia 100 to Watch 2026 menunjukkan bahwa inovasi dari Indonesia memiliki ruang untuk berkembang di tingkat regional.
Di saat yang sama, perkembangan tersebut juga menjadi pengingat bahwa teknologi semakin dekat dengan aktivitas bisnis sehari-hari.
AI, otomatisasi, dan digitalisasi bukan lagi hanya milik perusahaan teknologi besar. Bisnis skala kecil dan menengah pun dapat mulai mengadopsinya sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Payaman Lab membantu bisnis mengembangkan ekosistem digital melalui teknologi, branding, dan digital marketing. Salah satu solusi yang dapat dieksplorasi adalah ChatSaya.com untuk membantu mengotomatisasi komunikasi dengan pelanggan.
Jika bisnis Anda sedang menghadapi tantangan dalam mengelola komunikasi pelanggan, pemasaran digital, website, maupun proses bisnis, inilah saat yang tepat untuk mulai mengevaluasi bagian mana yang dapat dioptimalkan dengan teknologi.
Bangun bisnis digital yang lebih efisien bersama Payaman Lab.