Branding Gen Z tidak cukup dilakukan dengan menambahkan bahasa gaul atau mengikuti tren viral. Merek perlu memahami konteks kehidupan audiens dan menghubungkan produk dengan kebutuhan yang benar-benar relevan.
Salah satu contoh datang dari CIMB Niaga melalui kampanye OCTO “Go Dompetless, Wear Pocketless”, yang diperkenalkan dalam rangkaian Kejar Mimpi FEST 2026. Laporan Marketing-Interactive pada 15 Oktober menyebut kampanye ini melibatkan girl group MARBLES dan menyasar konsumen Indonesia berusia 17–27 tahun, terutama mahasiswa dan pekerja awal karier. Fashion digunakan sebagai medium komunikasi agar layanan digital terasa lebih dekat dengan gaya hidup dan ekspresi diri anak muda.
Sumber berita: Marketing-Interactive — OCTO goes ‘dompetless’ and ‘pocketless’ in youth-focused campaign.
Mengapa kampanye ini menarik dari sudut branding?
Alih-alih hanya menonjolkan fitur aplikasi, kampanye menghubungkan transaksi digital dengan gagasan gaya hidup tanpa dompet dan pakaian tanpa kantong. Ide ini mudah diterjemahkan ke visual, fashion, slogan, dan aktivasi. Namun, daya tarik kreatif tidak otomatis membuktikan kenaikan pengguna atau transaksi; hasil bisnis perlu diukur secara terpisah.

5 pelajaran branding Gen Z untuk bisnis
1. Mulai dari insight audiens
Pahami kebiasaan, kebutuhan, dan hambatan pelanggan sebelum menentukan konsep. Jangan menganggap semua Gen Z memiliki gaya hidup atau kemampuan finansial yang sama. Gunakan riset, percakapan pelanggan, dan observasi untuk menguji asumsi.
2. Bangun ide yang mudah divisualisasikan
Ide yang kuat dapat diterjemahkan ke video pendek, foto, slogan, materi digital, atau pengalaman langsung. Pastikan konsep tetap memiliki hubungan dengan manfaat produk; ide yang ramai tetapi tidak menjelaskan brand berisiko menjadi hiburan semata.
3. Pilih kolaborator yang relevan
Kreator dan figur budaya dapat membantu merek menjangkau komunitas tertentu. Pilih berdasarkan kecocokan nilai, audiens, gaya komunikasi, dan kredibilitas, bukan jumlah pengikut saja.
4. Ciptakan pengalaman di luar layar
Aktivasi, acara, merchandise, atau kolaborasi komunitas dapat memperluas pengalaman brand. Bisnis kecil tidak perlu meniru skala perusahaan besar; kegiatan sederhana pun dapat bermakna jika sesuai dengan identitas merek.
5. Hubungkan perhatian dengan tujuan bisnis
Untuk awareness, pantau jangkauan, pencarian nama brand, dan kualitas percakapan. Untuk akuisisi, ukur kunjungan ke halaman produk, pendaftaran, prospek, atau konversi. Jangan menyamakan konten viral dengan peningkatan penjualan tanpa data pendukung.
Branding yang relevan harus tetap autentik
Pelajaran utama dari kampanye OCTO adalah pentingnya menghubungkan layanan dengan budaya dan gaya hidup audiens. Prinsip ini dapat diterapkan pada bisnis kuliner, fashion, pendidikan, jasa digital, maupun UMKM, selama insight dan eksekusinya sesuai dengan karakter brand masing-masing.
Branding yang kuat bukan hanya membuat orang melihat sebuah merek. Branding membantu audiens memahami, mengingat, dan mempercayai alasan memilihnya.
Contoh penerapan untuk bisnis kecil
Prinsip branding berbasis insight dapat digunakan tanpa anggaran kampanye besar. Sebuah kedai kopi, misalnya, dapat meneliti kebiasaan pelanggan yang bekerja dari kafe lalu mengembangkan pesan tentang ruang produktif. Penyedia kursus dapat menyoroti kebutuhan siswa akan jadwal yang fleksibel, sedangkan bisnis jasa digital dapat menjelaskan bagaimana layanan membantu pemilik usaha menghemat waktu.
Dalam setiap contoh, konsep kreatif harus tetap terhubung dengan manfaat yang benar-benar tersedia. Jangan menjanjikan pengalaman, diskon, atau fitur yang tidak dapat dipenuhi. Gunakan uji coba kecil untuk mengetahui pesan mana yang paling dipahami audiens.
| Tujuan branding | Contoh indikator | Catatan |
|---|---|---|
| Awareness | Jangkauan dan pencarian nama brand | Ukur pada periode yang konsisten |
| Engagement | Simpan, bagikan, komentar relevan | Nilai kualitas, bukan jumlah saja |
| Akusisi | Prospek, pendaftaran, konversi | Hubungkan dengan sumber kampanye |
Ringkasan lima prinsip yang bisa diterapkan
- Teliti kebutuhan audiens sebelum menentukan ide.
- Pastikan konsep kreatif terhubung dengan manfaat produk.
- Pilih kreator yang relevan dengan komunitas sasaran.
- Rancang pengalaman yang konsisten di kanal online dan offline.
- Ukur hasil sesuai tujuan awareness, engagement, atau akuisisi.
Prinsip ini membantu tim mengubah tren menjadi keputusan komunikasi yang terencana, bukan sekadar mengejar perhatian sesaat.
Pertanyaan umum tentang branding Gen Z
Apakah semua brand harus mengikuti tren Gen Z?
Tidak. Brand perlu memprioritaskan audiens yang memang ingin dijangkau. Tren hanya relevan jika sesuai dengan identitas dan manfaat produk.
Apakah kolaborasi dengan influencer menjamin kampanye sukses?
Tidak. Kesesuaian audiens, pesan, kualitas eksekusi, dan pengukuran hasil tetap penting.
Bagaimana membedakan viral dengan hasil branding?
Viral biasanya menggambarkan tingginya perhatian. Hasil branding perlu dilihat melalui indikator yang sesuai tujuan, seperti ingatan merek, pertimbangan, pencarian brand, atau konversi.
Pelajari juga pendekatan nostalgia branding dan layanan corporate branding Payaman Lab.
Kembangkan strategi branding bersama Payaman Lab
Payaman Lab membantu bisnis menyusun strategi branding, pemasaran digital, dan produksi konten yang relevan dengan audiens serta tujuan bisnis. Mulailah dari pemahaman pelanggan, positioning yang jelas, pesan yang konsisten, dan pengukuran hasil.
Ingin membangun branding yang lebih relevan? Kunjungi Payaman Lab untuk mengenal layanan kami.
Gambar utama: Marketing-Interactive, sumber foto kampanye. Gambar badan: Sufri Yuliardi/Warta Ekonomi, sumber foto. Atribusi tidak otomatis menggantikan izin penggunaan foto.